Background

Puisi Chasim casico



>>Chasim Casico<<
AKAN ADA MENDUNG PAGI
Hujan membawaku sepi
Kedalam bingkai tiada menentu
Rangkaian kata membius dalam rintik air hujan

Kusenandungkan disetiap lantunan-Mu
Menyambut datangnya angin surga
Ada gelisah yang tersirat dalam rona kehidupan

Kini cahaya suci telah tertutupi
Oleh kabut malam tiada bercahaya
Dan esok akan ada mendung pagi

20 Januari 2012



>>Chasim Casico<<

SELIR BULU
Aku seperti selir bulu
Yang kau tiup terbang keudara
Melambaikan seruak kabut-kabut
Kian jadi debu-debu
Di tanah kosong

07-01-2012

SEPERTI HUJAN MALAM  INI
Seperti hujan malam ini
Gemercik air rintih membasuhi
Kedinginan dimalam yang suram
Dan hembusan angin
Menyiur halus kedalam punggung yang tandus

Januari 2012



Chasim Casico

KOTA SUNYI
Tak seorangpun kian menau
Dalam jeratan kesunyian malam kelabu
Diiringi dengan musik sendu
Aku terpaku
Hening dan sunyi kau kotaku
Menjadi serdadu pilu dalam hidupku
Kawanku tiada menau
Dari rindu yang menderu
Kau tau itu
Seperti suara erang yang menggebu
Dijendela pintu rumahku
Sampai datangnya cahaya langit membiru
Hingga kulantunkan musik merdu
Kumenunggu

1 Januari 2012




Puisi : Chasim Casico

Malam Pengantin
Sayang malam ini kita akan bercumbu
Telah aku siapkan kamar kosong penuh mawar
Selimut, bantal dan iringan musik classic
Sayang, tolong matikan lampunya.

2012




>>Chasim casico
MUARA HITAM
Kala kudengar suara bisikan
Muara hitam yang bergenang
Dipelupuk mata ada relung
Mendung wajahmu
Mendung hatimu
Ada kala kudengar nyanyian
Suling dibawah ombak
Menyiur angin ombak bergelombang
Para ikan kehausan, lautpun kering
Batu karang kini menangis
Mengharap datangnya setetes air kehidupan
Lalu
Musim kering daun berguguran
Binatang lajang berjejeran
Mencari air keladang-ladang
Meski air hanya bergenang kecil
Para manusia dalam duka, saling berontak mengadu nasib
Ladang sawah telah kering
Mata air tertutup debu
Pada siapa harus mengadu
Pada illahi itulah tentu
Dzikir dan doa selalu menyertai
Nasib bumi telah usai
Karena bencana ulah manusia
Alam kita jadi korban
Dalam muara berwarna hitam

13-04-2012





Chasim casico

Di  Persimpangan
Aku yang jauh
Duduk di halte pemberangkatan
Menanti bus yang lewat
Tidak kunjung datang juga
Menantinya terlalu lama
Sedangkan aku yang akan menemuimu di chase café malam ini
Di persimpangan ini yang memisahkan jarak dan waktu
Maafkan aku.

2012



<<Chasim casico>>

HALTE KE TIGA DI MALIOBORO
<<Untuk Nurdin Nurdiansyah>>
Kita yang duduk diangkringan malam itu
Membeli nasi kucing, gudeg dan oseng tempe
Tidak ada yang spesial, satu gadis mungilpun tidak ada yang menemani percakapanku
Hanya aku dan dia
Malam telah menjadi perbincangan
Bercerita tentang burung-burung yang ditembak mati oleh pemburu
Bercerita  tentang padi-padi di sawah yang kena Hama
Bercerita tentang derita lapar anak jalanan
Saat itu mereka meninggalkan kita berdua di Halte ke Tiga

November 2012




Puisi Chasim Casico

SENANDUNG LAGU KIDUNG
Jelaga membara
Membawa duka
Pada kencana berkepala dewa
Menghampiri dia dalam mayapada
Tersimpuh dalam rumpunnya Jua
Meriuh jauh enggan disana
Dua kelokan dalam bahtera

Senandung rindu lagu kidung
Menari-nari dewi bindung
Dewa dan dewi bermain lesung
Nada-nada saling bersenandung

2011


Nama               : Chasim Casico
Jurusan            : Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas           : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi Tasikmalaya

Categories: Share

Leave a Reply